PEMBUATAN
PONDASI KONSTRUKSI SARANG LABA-LABA
DI
WILAYAH RAWAN GEMPA
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Ibu Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd.
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Ibu Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd.
Oleh
Yuli
Fitriati
130521612627
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Mei 2014
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
Mei 2014
PEMBUATAN
PONDASI KONSTRUKSI SARANG LABA-LABA DI WILAYAH RAWAN GEMPA
Oleh
:
Yuli
Fitriati
1.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika
(BMKG), secara geografis, Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan
beragam morfologi dari daratan hingga pegunungan. Keberagaman morfologi ini
dipengaruhi oleh aktivitas pergerakan tiga lempeng tektonik besar di Indonesia
yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Pergerakan
lempeng-lempeng tersebut menyebabkan terbentuknya jalur gempa bumi, rangkaian
gunung api aktif, serta patahan-patahan yang dapat berpotensi menjadi sumber
gempa dan tsunami. Catatan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukan bahwa ada 28
wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami. Di antaranya NAD,
Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng dan DIY bagian
selatan, Jatim bagian selatan, Bali, NTB dan NTT, kemudian Sulut, Sulteng,
Sulsel, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen dan Fak-Fak di Papua serta
Balikpapan, Kaltim.
Gempa bumi tersebut tidak dapat dipastikan waktu
terjadinya, tempatnya, besar skalanya, dan dampak yang akan ditimbulkannya. Hal
ini karena sifat gempa bisa terjadi secara tiba-tiba dan kapan saja,
mengingat aktivitas pergerakan ketiga
lempeng tektonik secara terus-menerus yang berpotensi menimbulkan gempa. Banyak
dampak yang ditimbulkan dari gempa. Dampak yang paling besar dan merugikan
adalah adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Besarnya dampak gempa bumi
terhadap kerusakan bangunan bergantung pada beberapa hal, diantaranya adalah
skala gempa, jarak episentrum, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah dilokasi
bangunan dan kualitas bangunan (Heldi, 2011). Skala gempa yang besar
menimbulkan guncangan yang besar pula dan mengakibatkan bangunan roboh.
Bangunan yang roboh menandakan kurang kokohnya suatu bangunan. Bangunan yang
kurang kokoh disebabkan oleh kegagalan konstruksi, salah satunya konstruksi
pondasi. Kegagalan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
keadaan tanah pondasi, batasan-batasan akibat konstruksi di atasnya dan
sekelilingnya, waktu dan biaya pelaksanaan pekerjaan, mutu material, jenis
peralatan dan lain-lain.
Dapat disimpulkan bahwa pemilihan jenis pondasi
secara garis besar ditentukan berdasarkan faktor teknis, ekonomis dan
lingkungan. Oleh karena itu, solusi yang tepat untuk membuat sistem pondasi
berdasarkan faktor teknis, ekonomis dan lingkungan dibutuhkan, sehingga dapat
digunakan pada kondisi tanah yang sesuai. Pondasi Sarang Laba-Laba menjadi
solusi yang ditawarkan di daerah yang rawan gempa. Karena, jika menggunakan
pondasi dalam, misalnya dengan tiang pancang, maka harga bangunan akan naik
hingga 30%, sedangkan jika digunakan pondasi dangkal harus mempertimbangkan
resiko penurunan bangunan secara tidak merata (irregular differential
settlement) ditambah dengan total settlement yang membuat bangunan mudah
roboh pada saat gempa.
Pondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) ditemukan
oleh Ir.Ryantori dan Ir. Soetjipto, pada tahun 1975. Konstruksinya terdiri dari plat tipis yang diperkaku dengan
rib-rib tipis dan tinggi yang saling berhubungan membentuk segitiga-segitiga yang
diisi dengan perbaikan tanah sehingga menjadi satu kesatuan komposit konstruksi
beton bertulang dan tanah. Dinamakan
sarang laba-laba karena pembesian plat pondasi di daerah kolom selalu berbentuk
sarang laba-laba. Juga bentuk jaringannya yang tarik-menarik bersifat monolit
yaitu berada dalam satu kesatuan. Rib (tulang iga) KSLL berfungsi sebagai
penyebar tegangan atau gaya-gaya yang bekerja pada kolom. Pasir pengisi dan
tanah dipadatkan berfungsi untuk menjepit rib-rib konstruksi terhadap lipatan
puntir.
Sejak tahun 1976 sampai saat ini, Konstruksi Sarang
Laba-Laba telah digunakan pada lebih dari 1000 bangunan di Indonesia. Menurut
Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia, bangunan dengan pondasi ini
terbukti bisa berdiri kokoh pasca bencana tsunami di Aceh 2004 silam. Hampir
100 bangunan telah teruji terhadap bencana tersebut yang besar skala gempanya
hingga 9 Skala Richter (SR).
Konstruksi ini memiliki beberapa kelebihan, antara
lain ekonomis karena dapat menghemat biaya sekitar 30% karena 90% komponenya
adalah tanah. Bahkan untuk pondasi dalam, penghematan tersebut bisa mencapai
50%. Pengerjaan KSLL juga efisien waktu karena dapat dilaksanakan dengan
menerapkan prinsip ban berjalan. Kelebihan lainya adalah dapat menyerap tenaga
kerja karena dilaksanakan secara padat karya.
1.2
Rumusan
Masalah
Masalah umum dalam
makalah ini dirumuskan, yaitu bagaimana pembuatan pondasi sarang laba-laba di
wilayah rawan gempa ?
Masalah khusus dalam
makalah ini dirumuskan sebagai berikut,
(1) Apa
peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan pondasi Konstruksi Sarang
Laba-Laba/KSLL?
(2) Bagaimana
metode pelaksanaan pembuatan pondasi KSLL?
(3) Bagaimana
efektivitas atau keuntungan pondasi KSLL di wilayah rawan gempa?
2.
PEMBAHASAN
2.1
Peralatan dan Bahan dalam Pembuatan Pondasi KSLL
Pembuatan Pondasi KSLL
dilakukan dalam beberapa tahap. Tentu dalam pengerjaannya memerlukan alat dan
bahan yang berbeda pula.
Tahap-tahap dalam
pengerjaan pondasi KSLL adalah sebagai berikut:
1)
Pekerjaan Galian Tanah
Alat yang digunakan dalam penggalian
tanah adalah cangkul (tenaga manusia) atau mesin pengeruk (tenaga mesin).
2)
Pekerjaan Lantai Kerja untuk Rib dan
Beton Dekking
Bahan dalam pembuatan rib dan betton
dekking menggunakan campuran 1:5. Yaitu dengan perbandingan 1 Semen : 5 Pasir.
3)
Pekerjaan acuan untuk rib
Alat yang digunakan adalah kawat dan palu. Sedangkan
bahan untuk acuan yang digunakan berupa balok kayu 4/6, multipleks, serta bahan
lain seperti paku, juga kayu bundar sebagai penopang acuan.
4)
Pekerjaan pembesian untuk rib
Alat yang digunakan dalah kawat bendrat. Kemudian
bahan yang dibutuhkan adalah beton untuk beugel rib dan tulangan pokok rib, selimut
beton ±3 cm.
5)
Pekerjaan pengecoran untuk rib
Pengecoran dilakukan secara manual, dengan alat mini
mixer (molen), gerobak artco, skopang, mesin vibrator. Mini mixer (molen)
dipakai untuk mengaduk campuran semen, pasir, koral dan air. Gerobak artco
dipakai untuk menjadi wadah dari hasil
pengadukan dan untuk membawa hasil pengadukan ke tempat pengecoran. Skopang
dipakai untuk meratakan beton yang telah dituang. Mesin vibrator dipakai untuk
memadatkan adonan beton dalam pengecoran. Bahan-bahan yang digunakan untuk
adukan beton adalah semen, pasir dan koral, dan air. Semen yang digunakan adalah
jenis dan merk yang bermutu baik yaitu Tipe 1, karena semen tipe 1 merupakan
jenis semen yang cocok untuk berbagai macam aplikasi beton dimana syarat-syarat
khusus tidak diperlukan. Pasir beton yang digunakan dengan butir-butir yang
bersih dan bebas dari bahan-bahan organik, lumpur dan lain sebagainya. Koral
yang digunakan juga bersih dan bermutu. Koral untuk pengecoran rib digunakan
koral/steenslag ukuran ½, sedangakan untuk pengecoran plat bisa digunakan
koral/steenslag 2/5. Serta air yang digunakan adalah air tawar yang bersih.
6)
Pekerjaan urugan dan pemadatan pada
tanah dan pasir
Alat yang digunakan adalah Tamping Rammer. Sedangkan
bahannya adalah tanah bekas galian atau tanah yang didatangkan dari luar pekerjaan
urugan pasir dan pemadatan.
7)
Pekerjaan pembesian untuk pelat penutup
Alat yang digunakan adalah alat berat dan bahan yang
digunakan adalah besi tulangan yang berdiameter ± 10 m dengan mutu BJTP 30,
tulangan
yang berbentuk jaring laba-laba dan tulangan stek.
8)
Pekerjaan lantai kerja untuk plat
penutup
Alat yang digunakan adalah molen dan mesin pengecor.
Bahan yang digunakan adalah membuat adukan lantai kerja dengan campuran 1 PC 5
PS setebal ±3cm.
9)
Pekerjaan pengecoran beton pelat penutup
Alat yang digunakan adalah truk mixer yang
berkapasitas 5 m² dan truk pompa. Spesifikasi bahan dan aturan yang digunakan
pada pekerjaan sama seperti pada pengecoran rib.
2.2
Metode Pelaksanaan Pembuatan Pondasi KSLL
Pondasi KSLL yang ditemukan pada tahun 1975 oleh Ir.Ryantori
dan Ir.Sutjipto telah memiliki hak paten dari tahun 2004 yang kemudian dipegang
oleh PT KATAMA SURYABUMI sebagai pemegang paten dan pelaksana khusus
pondasi KSLL. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan teknologi ini
diperlukan kerja sama dengan pemegang hak paten. Haryono dan Maulana (2007:25)
menyimpulkan sesuai dengan definisinya, maka Konstruksi Sarang Laba-Laba
terdiri dari 2 bagian konstruksi, yaitu :
(1)
Konstruksi beton
Konstruksi beton pondasi KSLL berupa pelat pipih
menerus yang dibawahnya dikakukan oleh rib-rib tegak yang pipih tetapi tinggi. Ditinjau
dari segi fungsinya, rib-rib tersebut ada 3 macam yaitu rib konstruksi, rib settlement dan rib pengaku (Hilhami,
2011:17). Rib konstruksi yaitu rib yang berfungsi sebagai penyebar beban dari
suatu bangunan. Kemudian rib settlement
yaitu rib yang berfungsi sebagai tumpuan utama beban bangunan. Sedangakan rib
pengaku yaitu rib yang berfungsi sebagai pembagi dan pengikat atau pengaku
terhadap rib-rib yang lain. Bentuknya bisa digambarkan sebagai kotak raksasa
yang terbalik (menghadap kebawah). Penempatan / susunan rib-rib tersebut
sedemikian rupa, sehingga denah atas membentuk petak-petak segitiga dengan
hubungan yang kaku (rigid).
Keterangan :
1a - pelat beton pipih menerus
1b - rib konstruksi
1c - rib
settlement
1d - rib pembagi
2a - urugan pasir dipadatkan
2b - urugan tanah dipadatkan
2c - lapisan tanah asli yang ikut terpadatkan
Sumber : Laporan Tugas Akhir, Ratna Sari Cipto
Haryono dan Tirta Rahman Maulana
(2)
Perbaikan tanah / pasir
Rongga
yang ada diantara rib-rib / di bawah pelat diisi dengan lapisan tanah / pasir
yang memungkinkan untuk dipadatkan dengan sempurna. Untuk memperoleh hasil yang
optimal, maka pemadatan dilaksanakan lapis demi lapis dengan tebal tiap lapis
tidak lebih dari 20 cm, sedangkan pada umumnya 2 atau 3 lapis teratas harus
melampaui batas 90% atau 95% kepadatan maksimum (Standart Proctor)
(Wesley, 2010:512). Adanya perbaikan tanah yang dipadatkan dengan baik tersebut
dapat membentuk lapisan tanah seperti lapisan batu karang sehingga bisa
memperkecil dimensi pelat serta rib-ribnya. Sedangkan rib-rib serta pelat KSLL
merupakan pelindung bagi perbaikan tanah yang sudah dipadatkan dengan baik.
Metode pelaksanaan KSLL adalah sebagai berikut
(Hilhami, 2007):
(1)
Pekerjaan Galian Tanah
Pekerjaan galian tanah untuk lubang pondasi setelah
papan bowplank dengan penandaan sumbu dan ketinggian setelah dikerjakan. Galian
tanah tahap I : seluruh luasan untuk pondasi KSSL digali sampai kedalaman dan
lebar tertentu. Galian tanah tahap II : dikerjakan setelah galian tanah tahap I
untuk pekerjaan rib settlement (rib
anti penurunan), sepanjang jalur rib
settlement digali dengan lebar tertentu dari tepi ke tepi dan dari
kedalaman tertentu sehingga menjamin keleluasaan pemasangan pembesian, acuan
dan keamanan pekerjaan. Kemudian dilakukan juga penggalian tanah pada posisi
kolom. Sagel, Kole dan Kusuma (1997:20) menyimpulkan bahwa “untuk penggalian
perlu dibuat rencana”. Sudut kemiringan dari suatu lereng (kelandaian)
merupakan bagian penting dari penggalian skala besar, terutama ditentukan oleh
kelandaian alami dari jenis-jenis tanah kering.
Gambar 2.2
Pekerjaan Galian Tanah
Sumber : Laporan Tugas
Akhir, Sahno Hilhami
(2)
Pekerjaan Lantai Kerja untuk Rib dan
Beton Dekking
Dibawah rib konstruksi maupun rib settlement dibuatkan lantai kerja, dengan tujuan untuk mencapai
efisiensi yang tinggi, yang memiliki fungsi ganda yaitu sebagai lantai kerja
dan sebagai penahan acuan rib. Lantai kerja dibuat dengan ketebalan tertentu
dengan campuran 15. Beton dekking dibuat diatas lantai kerja sebagai pembatas
antara rib dengan lantai kerja.
(3)
Pekerjaan Acuan untuk Rib
Bahan untuk acuan yang digunakan berupa balok kayu
4/6, multipleks, serta bahan lain seperti paku, juga kayu bundar sebagai
penopang acuan. Konstruksi acuan dibuat setinggi ±190 cm untuk rib settlement dan ±130 cm untuk rib
konstruksi. Acuan dipasang sesuai ketebalan rib dan ditopang serta diikat kuat
sehingga baik ukuran, bentuk maupun posisi rib-rib tidak berubah selama
pengecoran berlangsung. Acuan dibersihkan dari segala kotoran dan siap untuk
dilakukan pengecoran rib. Acuan bisa dibuka 36 jam setelah pengecoran beton.
Gambar2.3
Pekerjaan Acuan rib
Sumber : Laporan Tugas Akhir,
Sahno Hilhami
(4)
Pekerjaan Pembesian untuk Rib
Memilih mutu besi beton untuk beugel rib dan
tulangan pokok rib. Beberapa besi dirakit diluar acuan kemudian dipasang dalam
acuan yang telah disiapkan, selanjutnya dipasang beugel rib. Besi beton diikat
kuat dengan kawat bendrat, sehingga besi tersebut tidak berubah tempat selama
pengecoran dan diberi jarak dari papan acuan atau lantai kerja dengan
pemasangan selimut beton ±3 cm. Dalam pemasangan besi terjadi pertemuan-
pertemuan dengan prinsip dan sistem hubungan pembesian pada pertemuan tersebut
antara rib dengan rib (baik rib konstruksi, rib sattlement maupun rib pembagi),
rib dengan kolom, dan rib dengan plat penutup.
(5)
Pekerjaan Pengecoran untuk Rib
Membuat adukan beton, dengan bahan semen, pasir dan
koral, serta air dengan mini mixer (molen), selanjutnya adukan beton ditampung
dalam gerobak artco. Setelah itu dituang dalam tempat yang akan di cor dan
diratakan dengan skopang. Kemudian mesin vibrator dihidupkan dan selangnya
diarahkan pada beton. Lalu kepala mesin ini dimasukkan ke dalam adonan dan
digetarkan di sekitar area tersebut selama kurang lebih sepuluh detik. Arena
pergetaran antara 30-40 meter persegi. Jadi penggunaan alat ini dipindah-pindahkan
sesuai luasan yang dibutuhkan. Pada saat memindahkan, mesin dimatikan terlebih
dahulu. Selama dalam masa pengeringan selalu dibasahi selama minimal 1 minggu.
Gambar 2.4
Pengecoran Rib
Sumber : Laporan Tugas
Akhir, Sahno Hilhami
(6)
Pekerjaan Urugan dan Pemadatan
Untuk pengurugan kembali lubang galian pondasi,
digunakan tanah bekas galian atau tanah yang didatangkan dari luar. Urugan
tanah dipadatkan lapis demi lapis dengan Tamping Rammer dengan ketebalan
tertentu. Pemadatan dilakukan setelah beton rib berumur 3 hari. Pemadatan
dilaksanakan sampai tanah tidak tampak turun lagi pada saat pemadatan.
Pemadatan juga dilakukan di sekeliling tepi luar pondasi selebar minimum 1,5 m,
juga dilaksanakan lapis demi lapis.
(7)
Pekerjaan Urugan Pasir dan Pemadatan
Setelah pekerjaan urugan tanah dan pemadatan
selesai, selanjutnya dilakukan pengurugan pasir tepat diatas tanah yang telah
dipadatkan. Pemadatan dilakukan dengan Tamping Rammer lapis demi lapis dengan
ketebalan tertentu. Untuk urugan lapis
I, dituntut kepadatan minimal 90% dari kepadatan optimal. Untuk urugan
lapis II, dituntut kepadatan minimal 95% dari kepadatan optimal (Standar Proctor). Pada saat melakukan
pengurugan tanah atau pasir, mengingat beton yang masih muda, maka dijaga agar
tinggi urugan antara petak yang bersebelahan tidak lebih dari ketebalan tiap
lapis tadi.
(8)
Pekerjaan Lantai Kerja untuk Plat Penutup
Setelah kepadatan pengurugan pasir dites dan
melampaui batas persyaratan yang ditentukan, maka sebelum pekerjaan pembesian
plat penutup dilaksanakan, seluruh luasan diberi lapisan lantai kerja dengan
campuran 1 PC 5 PS setebal ±3cm.
(9)
Pekerjaan Pembesian untuk pelat Penutup
Besi tulangan yang digunakan berdiameter ± 10 m
dengan mutu BJTP 30. Pemasangan besi langsung dilakukan diatas lantai kerja,
tepat pada tempat akan ditulangi. Untuk penulangan pelat sekitar kolom,
terlebih dahulu dipasang tulangan yang berbentuk jaring laba-laba. Sedangkan
untuk penulangan pelat tepat sepanjang jalur rib, terlebih dahulu dipasang
tulangan stek yang menghubungkan dan mengikat erat antara rib dengan pelat yang
dipasang zig-zag.
(10)
Pekerjaan Pengecoran Beton Pelat Penutup
Pengecoran beton pelat penutup dilakukan dengan
Truck Mixer yang berkapasitas 5 m² dan truk pompa untuk mempermudah dan
mempercepat proses pengecoran. Pengecoran dilakukan secara bertahap, mengingat
pekerjaan rib dan perbaikan tanah pada bagian lain belum selesai.. Pengecoran
dilakukan berdasarkan ketebalan pelat lantai yang disyaratkan adalah 11 cm.
2.3
Efektivitas atau Keuntungan Pondasi KSLL di Wilayah Rawan Gempa
Pembuatan pondasi KSLL di wilayah rawan gempa sangat
dirasakan efektivitasnya, baik dari segi ketahanan terhadap gempa maupun dari
segi ekonomisnya. Selain itu KSLL juga memiliki berbagai fungsi lain selain
sebagai pondasi.
(1)
Segi Ketahanan Terhadap Gempa
Pondasi KSLL akan
menjadi pondasi yang sangat kaku dan kokoh serta aman terhadap penurunan
dan gempa, juga mampu menjawab dilema yang timbul pada pondasi untuk gedung
yang bertingkat tanggung antara 2-8 lantai yang didirikan diatas tanah dengan
daya dukung rendah 0,2 kg/cm² sampai dengan 0,5 kg/cm², sehingga KSLL bukan
hanya pondasi tapi sistem konstruksi bangunan bawah yang kokoh. KSLL merupakan
suatu konstruksi yang monolit dan kaku sehingga menjadikan KSLL tahan terhadap
gempa.
Ketahanan terhadap gempa menjadi lebih tinggi,
karena adanya ketahanan terhadap diferensial settlement dan pengecilan terhadap total settlement. Ketahanan
terhadap diferensial settlement menjadi
lebih tinggi karena bekerjanya tegangan akibat beban sudah merata pada lapisan
tanah pendukung dan penyusunan rib
settlement sedemikian rupa (rib-rib diagonal, disamping rib-rib arah
melintang dan membujur), sehingga membagi luasan KSLL menjadi petak-petak yang
tidak lebih dari 200 m², dan menjadikan KSLL memiliki ketahanan yang tinggi
terhadap diferensial sattlement. Total settlement
juga menjadi lebih kecil, karena meningkatkan kepadatan tanah pada lapisan
tanah pendukung dibawah KSLL akibat pemadatan yang efektif pada lapisan tanah
perbaikan didalam KSLL dan bekerjanya tegangan geser pada rib keliling terluar
dari KSLL. Perbaikan tanah KSLL memiliki kestabilan yang bersifat permanen
karena adanya perlindungan dari rib KSLL.
(2)
Keuntungan dari Segi Ekonomis
Bebagai kelebihan dan kemampuan yang telah
disebutkan diatas, membuat sistem ini mampu menekan biaya pada jumlah yang
cukup besar dibandingkan dengan bangunan dengan sistem pondasi lain. Untuk
beban titik atau kolom yang cukup besar selalu dihasilkan konstruksi beton
untuk rib dan plat KSLL, dengan dimensi pembesian minimum pada umumnya, hanya
diperlukan volume beton rata-rata 0.20-0.45 m³, dan untuk pembesian rib dan
plat cukup dengan pembesian minimum 100-150 kg/m³. Untuk konstruksi bangunan
bertingkat, maka pembiayaan konstruksi perancah (scaffolding) untuk plat dan
balok lantai 2 akan berkurang sehingga menjadi sama dengan perancah dan acuan
untuk lantai 3 dan seterusnya. Pada umumnya diperoleh penghematan sebesar :
a.
± 30% untuk bangunan 3-8 lantai.
b.
± 20% untuk bangunan 2 lantai.
c.
± 30% untuk bangunan gedung kelas satu.
Sumber : Konstruksi Sarang Laba-Laba, Ir. Sutjipto
KSLL memiliki berbagai fungsi lain selain sebagai
pondasi, yaitu:
a.
Sebagai pondasi kolom, dinding dan
tangga.
b.
Sebagai sloof/balok pengaku.
c.
Sebagai Konstruksi pelat lantai dasar.
d.
Urugan/perbaikan tanah dengan pemadatan
tanah.
e.
Dinding penahan urugan dibawah lantai.
f.
Konstruksi pengaman terhadap kestabilan
(kepadatan) perbaikan tanah yang ada dibawah lantai.
g.
Pasangan dan plesteran tembok dibawah
lantai dasar.
h.
Kolom dibawah peil lantai dasar.
i.
Septictank dan resapan.
j.
Bak reservoir bila diperlukan.
k.
Pelebaran KSLL terhadap luas lantai
dasar dapat diukur sedemikian rupa, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai trotoar
atau tempat parkir.
3.
SIMPULAN
Pembuatan pondasi sarang
laba-laba (KSLL) di wilayah rawan gempa merupakan salah satu solusi untuk
mengatasi kerusakan bangunan akibat gempabumi. Dengan segala perencanaan biaya
dan proyek pembangunan, solusi ini sangat membantu mengatasi masalah kerusakan
bangunan di wilayah rawan gempa, seperti Indonesia. Tentunya dengan mengantongi
izin dari pemilik hak paten PT. Katama Suryabumi. Sehingga penggunaan pondasi ini
pada bangunan berfungsi secara maksimal dan dapat diterapkan di seluruh
bangunan di Indonesia maupun luar negeri dengan menghargai hak cipta anak
bangsa itu sendiri.
4.
DAFTAR RUJUKAN
Badan
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. 2014. Gempabumi, (Online), (http//gempabumi.bmkg.htm), diakses 1 April 2014.
Badan
Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia. 2007. Booming Konstruksi Indonesia. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Haryono,
R. S. C. & Maulana T. R. 2007. Analisis Penggunaan Struktur Pondasi Sarang Laba-Laba pada Gedung BNI’46
Wilayah 05 Semarang. Tugas akhir tidak diterbitkan. Semarang: Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro.
Heldi. 2011. Dampak Bencana Gempa Terhadap Lingkungan Binaan Bangunan Kuno Warisan
Budaya di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat, (Online), (http//dampak-bencana-gempa-terhadap.html),
diakses 1 April 2014.
Hilhami,
S. 2011. Metode Pelaksanaan dan Perbandingan
Daya Dukung Pondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSSL) dengan Pondasi Telapak
pada Pembangunan Gedung D-III Class Politeknik Unhalu. Tugas akhir tidak
diterbitkan. Padang : Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
Ryantori,
Ir. & Sutjipto, Ir. 1984. Konstruksi Sarang Laba-Laba. Surabaya: PT.
Dasaguna.
Sagel,
I. R., Kole, I. P. & Kusuma, G. H. Ir. 1997. Pedoman Pengerjaan Beton. Jakarta: Airlangga.
Wesley,
L. D. 2010.Mekanika Tanah untuk Tanah Endapan
& Residu. Terjemahan Dr. Ir. Satyawan Pranyoto. 2012. Yogyakarta: Andi.
Selamat Siang,
BalasHapusDear Mrs. Yuli fitriati
kami dari PT. Katama Suryabumi. ingin menginfokan bahwa blog anda yang memuat tulisan dengan judul Pembuatan Pondasi Konstruksi Sarang Laba-laba di wilayah Rawan Gempa. telah kami seleksi dan mendapatkan souvenir menarik dari perusahaan kami. untuk itu di mohonkan untuk segera mengirim alamat domisili anda saat ini. untuk dapat mengirimkan souvenir ke alamat tempat tinggal anda, Kami mengucapkan Terima Kasih kepada anda karena telah berpartisipasi dalam penulisan blog tentang konstruksi sarang laba laba.
untuk informasi lebih lanjut dapat mengirimkan @mail ke marketing.katama@gmail.com atau hubungi kami di kontak person 085768434838.
Terima Kasih,
Regards
Inayah Sofiah
Selamat Siang,
BalasHapusDear Mrs. Yuli fitriati
kami dari PT. Katama Suryabumi. ingin menginfokan bahwa blog anda yang memuat tulisan dengan judul Pembuatan Pondasi Konstruksi Sarang Laba-laba di wilayah Rawan Gempa. telah kami seleksi dan mendapatkan souvenir menarik dari perusahaan kami. untuk itu di mohonkan untuk segera mengirim alamat domisili anda saat ini. untuk dapat mengirimkan souvenir ke alamat tempat tinggal anda, Kami mengucapkan Terima Kasih kepada anda karena telah berpartisipasi dalam penulisan blog tentang konstruksi sarang laba laba.
untuk informasi lebih lanjut dapat mengirimkan @mail ke marketing.katama@gmail.com atau hubungi kami di kontak person 085768434838.
Terima Kasih,
Regards
Inayah Sofiah